Kamis, 10 Februari 2011

gengsi

Berawal dari kutipan lirik lagu iwan fals "keinginan adalah sumber penderitaan, tempatnya di dalam fikiran, tujuan bukan utama, yang utama adalah prosesnya, kita hidup mencari bahagia, harta dunia kendaraannya........." perpaduan antara lyrik dan lagu tersebut sangat enak di dengar., lagu tersebut menggambarkan tentang kebanyakan sifat manusia yang selalu ingin merasa "wah" di depan orang lain, apapun caranya yang penting tampil mentereng di depan orang.

Setiap insan di muka bumi ini sedikit atau banyak pasti memiliki rasa gengsi. Yang bikin geli adalah apabila rasa gengsi itu sedemikian mencoloknya, sehingga orang-orang di sekitarnya merasa terusik sekalipun sebenarnya mereka tidak ada ‘urusan’ apa-apa dengan perilaku yang suka ‘menonjolkan diri’ itu. Entah berasal dari bahasa mana kata ‘gengsi’ ini diserap, namun nampaknya bukan dari bahasa Belanda (verwaand,ijdel) atau bahasa Inggris (vain,conceited,vainglorious). Bentuk sikap gengsi ini bisa termanifestasi dalam banyak hal dan memang tidak ada parameter baku untuk membuat penilaian suatu sikap masuk kategori gengsi atau bukan.

kita lihat fenomena yang terjadi pada anak bangsa, mereka yang masih sekolah atau kuliah tidak mau di belikan Motor/HP/Mobil yang biasa-biasa saja, pokoknya harus tampil "wah" di depan orang. yang jelas tidak sesuai dengan kebutuhan. dan fenomena ini cukup tinggi di Indonesia di banding negara lain. di negara-negara maju kebanyakan orang melakukan aktivitas dengan berjalan kaki atau naik sepeda, padahal dia memiliki kendaraan di garasi rumahnya yang mungkin jauh lebih bagus di bandingkan dengan yang di miliki orang-orang Indonesia. mereka bisa melakukan hal tersebut karena mereka berfikir efektif dalam melakukan sesuatu, dan tak lepas dari peran pemerintahnya yang menerapkan tarif parkir yang tinggi dan fasilitas transportasi umum yang memadahi. salah satu contoh, kenapa kemacetan yang terjadi di jakarta tak kunjung tertangani. karena tidak lepas dari kata "gengsi" yang menempel pada kebanyakan warganya. Bus way yang telah di bangun untuk mengatasi kemacetan tidak laku oleh warga Jakarta yang lebih memilih untuk mengendarai mobil kebanggannya ke tempat kerja., walaupun sebenarnya mobil yang mereka kendarai tidak sesuai dengan gaji yang mereka terima., lalu dari mana dia dapatkan uang untuk membeli mobil itu?. satu kata yang banyak membelit para ahli gengsi, "hutang". wajar kalau hutang di pakai untuk usaha, tapi kalau hanya untuk gengsi. aduh, cape deh...(alay mode on). berlanjut ke fenomena anak-anak alay. ternyata penyakit gengsi telah menjangkit bangsa kita sejak usia remaja. mulai dari hal-hal kecil, seperti selera musik, model pakaian, dialek bahasa, gaya rambut, tempat tongkrongan, dll. kalau sudah memasuki jenjang Sekolah Menengah Umum orang tua di bikin pusing untuk cari hutang sana-sini demi menuruti gengsi sang anak dengan motor sport, HP canggih atau bahkan mobil sport terbaru., namun terkadang kebanyakan orang tua pun memenuhi permintaan anaknya tersebut, ya kembali pada prinsip bahwa "buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya". seperti yang terjadi belum lama ini tentang kasus korupsi, yang mana seorang bapak berani melakukan korupsi karena anaknya minta di belikan Honda Jazz.

sebenarnya orang tua menjadi kontrol untuk hal ini., didikan yang di berikan sejak kecil akan sangat berpengaruh dengan perkembangan mental anak kedepannya, di didik dengan kesederhanaan atau dengan manja yang akhirnya akan terus terbawa hingga dewasa dan tua. yang sangat memprihatinkan adalah ketika anak muda sekarang merasa gengsi dengan urusan agama, merasa malu mengakui lulusan pesantren, merasa malu dengan busana muslim, malu dengan hal-hal yang berbau ibadah dsb., bahkan melakukan maksiat menjadi suatu kebanggaan,. Ada suatu fenomena dimana hal-hal ibadah di bawa kepada ranah gengsi, kita mungkin masih ingat dengan peristiwa di rumah "Haji" Syaiqoni, yang membagikan uang shodaqoh di depan rumahnya sehingga menimbulkan korban jiwa,. mengapa dia tidak menyerahkan pembagian tersebut kepada Takmir Masjid setempat atau lembaga zakat yang lebih profesional,. (demi mengangkat gensi) astaghfirullah..

marilah kita berfikir efektif dengan mempertimbangkan mana KEINGINAN dan mana KEBUTUHAN,. kalau kita sudah cukup mandiri dan sukses dalam hal financial, bolehlah kita beli sekehendak yang kita ingin., jangan sampai orang tua di bikin sesak dadanya karena kita memaksa untuk di belikan barang-barang gengsi.,
Kenapa kita membeli Hp yang jauh lebih mahal dari keperluan kita ?
Kenapa harus beli mobil yg mahal sekali yg jauh daripada kebutuhan kita ?
Kenapa kita sering tak mau mengalah dan terlibat dalam perdebatan dengan orang lain ?
Kenapa banyak orang berkelahi bahkan sampai membunuh hanya karena tersinggung oleh masalah kecil ?
Kenapa Orang banyak berhutang untuk Gaya Hidup yang Maksimal, dengan Pendapatan minimal?
Jawabnya Demi gengsi…satu kata yang cukup membuat harga diri kita terusik.. kita gengsi kalo tak punya baju bagus..mobil mewah..rumah bagus, HP terbaru, Atau Gadget Mutakhir..

jadi kesimpulannya : jangan banyak GAYA sebelum SUKSES.,.
semoga kita menjadi orang-orang sukses yang rendah hati. jauh dari hal gengsi,. amien. "undzuru ila man hua asfala minkum wala tanduru ila man hua fauqokum"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar